Resensi Demigod
Posted in
Label:
karyakrenyes
Rabu, 24 November 2010
DemiGod : Konflik Arogansi, Jihad, dan Profesionalisme
Judul : DemiGod
Pengarang : dr. Bahar Azwar, SpB Onk
Penerbit : GagasMedia
Halaman : 256 + viii halaman
Terbit : Mei 2005
Kehidupan dokter bedah yang penuh intrik dan estetika sepertinya adalah suatu cerita kehidupan yang menawan dan pula membingungkan. Dengan intrik yang beragam, kehidupan dokter bedah harus terjadi dalam penggalan kisah di kamar operasi hingga di meja pengadilan. Tak jarang pula, dokter bedah kerap kali bersinggungan dengan malapetaka semacam malpraktik yang harus dihadapi sebagai konsekuensi keputusan di dalam kamar operasi. Malpraktik sebagaimana yang kita tahu adalah suatu hal kesalahan yang berdampak buruk bagi keberadaan pasien yang kerap kali terjadi di Indonesia dan dewasa ini acap kali menjadi pemberitaan hangat di media nasional. Dengan latar kehidupan nyata yang demikian, sepertinya novel ini telah pula ikut menjadi suatu bagian kritis yang mengomentari keadaan demikian dari sudut pandang seorang dokter. Tampaknya, inilah latar yang dipilih dr. Bahar Azwar, SpB Onk untuk novelnya yang berjudul DemiGod.
Cerita berpusat pada kehidupan seorang dokter bedah bernama Bobby. Dokter Bobby digambarkan sebagai seorang dokter bedah yang berjihad dalam perjuangan supremasi pasien atas hak-hak konsumennya. Upaya itu dideskripsikan sebagai bentuk transformasi atas pengalamannya selama berpuluh-puluh tahun menjadi dokter umum, dokter bedah, dan dokter bedah tumor. Dokter Bobby juga digambarkan sebagai seorang dokter bersuku Minang yang memiliki banyak kerabat sehingga identitasnya ini turut pula membantu dalam beberapa penyelesaian konflik.
Dengan sudut pandang orang ketiga pelaku sampingan, novel ini acap kali menceritakan kehidupan dokter-dokter lain dengan intriknya masing-masing. Latar ceritanya adalah kehidupan rumah sakit yang terkadang beratmosfir ilmiah. Dengan alur konversional (maju-mundur), novel ini telah pula memutar balik waktu tentang kisah malpraktik yang diketahui Dokter Bobby semenjak ia diangkat menjad dokter. Kepengarangan yang diungkap pun dipandang benar-benar dari sudut seorang dokter sehingga bahasa yang digunakan pun kerap kali beristilah kedokteran.
*****************
Novel dibuka dengan keadaan Sandra, seorang pasien yang memprihatinkan. Pasca-operasi, ia telah kehilangan banyak hal. Kejadian pasca-operasi telah pula membuatnya shock memiliki kolostomi di perut sehingga membuatnya menjadi abnormal, harus membuang hajatnya di dalam sebuah kantong yang ditempelkan di perut-bukan anus.
Selanjutnya, kisah bercerita tentang penggalan-penggalan cerita saat operasi Sandra. Memutar waktu, operasi dilakukan oleh seorang dokter bernama Mardi, seorang dokter kebidanan senior yang aktif di FKUI. Ia dibantu oleh beberapa orang, termasuk Bidan Vera dan Dokter Budi, seorang obgyn muda yang melakukan tugas perdananya saat itu. Sandra, pasien, dioperasi dengan keluhan haid yang berkepanjangan. Setelah didiagnosa, Sandra memiliki mioma di uterusnya. Seharusnya petaka ini ditangani seorang dokter bedah, namun kearogansian seorang obgyn senior telah memuntahkan kevitalan tersebut sehingga dampak buruk membayang di pelupuk mata seorang Sandra.
Selanjutnya kisah kembali mengulas waktu tentang kehidupan Dokter Bobby yang harus kerap bersinggungan dengan malpraktik. Semenjak ia ditugaskan ke Jayapura, Aceh, Bandung, Jakarta dan daerah asal Bukittinggi, dinamika kehidupan membawanya ke dalam intrik sosialnya sebagai seorang dokter dan manusia yang memiliki status sosial. Di Jayapura, ia harus berhadapan denga malpraktik ketika ia menghadapi Steven Johnson Syndrome. Pada kisah selanjutnya, Dokter Bobby diceritakan dalam perjalanan sulit dan melelahkan sebagai seorang mahasiswa bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di Aceh, Dokter Bobby berhadapan dengan kesombongan dan syiar ketika ia melakukan malpraktik terhadap seorang pemuka agama. Ia juga harus melakukan upaya penyelamatan terhadap kakak ipar kesayangannya, Da In yang hampir tercekat nyawanya akibat malpraktik di Rumah Sakit Jantung sebab komplikasi jantung, ginjal, dan saluran pencernaan. Dokter Booby juga sempat mengalami intrik yang menggoda dari seorang bidan ganjen. Walaupun pada akhirnya, ia tetap kukuh pada kesetiaan pada pasangan hidup.
Selebihnya, novel ini menceritakan tentang keadilan, ketulusan, dan juga jihad. Dengan pengalaman yang matang, Dokter Bobby selalu berusaha untuk bisa merefleksi dan bertindak sesuai dengan pengalaman yang ia ketahui. Pada bagian akhir, ia akhirnya mendirikan Lembaga Perlindungan Hak Pasien. Bersama beberapa dokter dan sekumpulan pengacara peduli, ia berusaha untuk bisa memperjuangkan hak-hak pasien yang dirampas dan dilakukan dalam malpraktek pada konsekuensi kedokteran. Hal ini telah pula membaginya dalam suatu lingkar jihad melawan kesewenangan, suap, kolusi dan kooperasi buruk sesame dokter.
Pertikaian diselesaikan dengan melapornya Sandra ke LPHP. Dengan bantuan dokter Bobby dan lembaganya, kisah Sandra pun mendapat sambutan yang mengharukan. Dengan perjuangan, Sandra akhirnya mendapat secercah keadilan yang seharusnya memang menjadi haknya. Hal ini telah pula membawa Dokter Bobby kembali ke pada masa lalunya dalam upaya untuk menguatkan bukti bersama saksi, sepasang saudara angkat : dr. Kusriyati dan dr. Bobby.
****************************
Kisah dalam novel ini sepertinya adalah refleksi dari perjalanan hidup seorang Dokter Bahar Azwar. Pengalaman hidupnya telah dituangkan dalam kenangan manis bersambut novel yang menawan ini. Dengan bahasa yang cantik, konflik dalam novel ini telah diselesaikan dengan apresiasi yang tinggi terhadap jihad dan hujatan terhadap kearogansian. Novel ini secara tidak langsung telah pula menjadi kritik tajam bagi kehidupan dokter secara umum yang penuh dengan dinamika. Selebihnya, novel ini telah menjadi semacam gambaran kehidupan dokter yang berkutat pada masalah utama kesenjangan antara profesionalisme dan kebutuhan hidup manusia.
Walaupun pada penilaian akhir, novel ini terlalu banyak menampilkan situasi dalam konflik yang tidak sederhana sehingga sulit untuk dimengerti untuk sebagian orang. Alur ceritanya pun terkadang membingungkan. Sebagai novel yang sedikit-banyak menceritakan kehidupan kedokteran, novel ini memiliki terlalu banyak istilah kedokteran namun terlalu sedikit menyampaikan pengertiannya di glosarium. Pada akhirnya, setidaknya novel ini dapat dijadikan sebagai suatu referensi kehidupan yang mengena. Bagaimana pun, dokter hanyalah seorang manusia biasa!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







1 komentar:
saya juga, ketika membaca kata demi kata harus diulang beberapa kali agar dapat menangkap maksud yg disampaikan oleh penulis.
Posting Komentar